Tujuan Pendidikan Islam

Jumat, 05 September 2014



Biografi Al-syahid hasan al-banna
Saat melemahnya pergerakan revolusi Mesir, yang diiringi dengan munculnya inggris menduduki wilayah-wilayah Mesir, lahirlah si jabang bayi yang kelak mengangkat nasib kaum Muslim daripenjajahan dan kemunduran, yang lahir pada bulan oktober 1906 M. di wilayah Buhairah, desa Mahmudiyah yang terletak 10 mil dari dari barat daya Kairo. Dia dilahirkan dari kalangan keluarga yang taat beragama.
            Dalam umur yang relatif cukup muda, ia telah memasuki jama’ah diniyyah (keagamaan), di antaranya ”jama’ah Suluk akhlaki” telah mempengaruhi kepribadian Hassan al-banna, menjadikannya konsisten dalam menjalankan perintah allah dan menjauhi larangannya, ang ia terapkan dalam sikap dan perilakunya. Tidak cukup di situ saja, Mesir sebagai pusat perkembangan tarekat sufi, dan tempat lahirnya para tokoh sufi islam, ikut mewarnai moralitas dan berpikir Al-Banna. Tarekat pertama yang menarik baginya adalah tarekat Ikhwan Al-Hasafiyyah. Tidak lama kemudian dia mendirikan jam’iyah Hashafiyyah li Al-Birri, sebagai manifestasi dari penghayatan dan keinginannya untuk menyebarkan misi tarekat agar lebih memasyarakat, yang akan menambah dinamika dakwah islamlebih semarak serta bisa menandingi sekaligus memerangi memerangi kegiatan misionaris Kristen di kota-kota. Maka pada umur 13 tahun dia menjadi sekretaris salah satu organisasi yang diketuai oleh Ahmad Syukri (dia kelak yang mendukung berdirinya Ikhwan al-Muslimin). Di tengah kesibukannya sebagai da’I, Al-banna mampu menyelesaikan jenjang pendidikannya dengan mulus. Pada 1927 ia lulus dari Fakultras Darul Ulum, pada usia 21 tahun. Panggilan berdakwah di kampungnya telah mendorongnya untuk kembali ke daerah kelahirannya. Disan dia bekerja sebagai guru sejak 19 september 1927, hingga dia mengundurkan diri pada 1946.
Konsep pergerakan Ikhwan Al-Muslimin.
            Oase dakwah member ilham berdirinya gerakan Islam Al-Ikhwan Al-Muslimin yang dipimpinnya, pada Maret 1928 M. Nama dipilih oleh Hassan Al-Banna karena, “kita bersaudara dalam berkhidmat kepada allah, oleh karena itu kita Ikhwan Al-Muslimin. Nah, untuk memahami lebih lanjut, mari kita melihat ketujuh spesifikasi yang dapat mendeskripsikan makna filosofis Ikhwan Al-Muslimin diantara gerakan-gerakan yang ada saat itu, dan mungkin juga sebagai saat ini, adalah sebagai berikut :
1.      Organisasi yang membawa nama islam tanpa keraguan.
2.      Organisasi yang selalu berpijak pada yang haq. Sebagaimana diketahui dalam sejarah (perjalanan Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah.
3.      Organisasi yang bisa menghimpun kaum muslim dalam menyampaikan yang haq.
4.      Organisasi yang selalu bergerak (dalam amaliyyahnya) untuk menciptakan ‘izzah islam agar bisa direalisasikan seluruhnya.
5.      Organisasi yang berusaha membebaskan kaum muslim dari keterikatan yang ingin menghilangkan kemuliaannya.
6.      Organisasi yang mampu mengaplikasikan ciri-ciri khusus golongan Allah terhadap dirinya masing-masing.
7.      Organisasi yang tidak melupakan persaudaraan di antara Muslim, tidak mengagungkan mulia dengan kemuliaannya, dan tidak sombong pada kebaikan.
Dan untuk lebih mengetahui sejauh mana pengaruh dan keberadaan gerakan Ikhwan Al-Muslimin di masyarakat dahulu dan sekarang ini, alangkah baiknyakita melihat kosep pergerakan ini secara utuh, untuk mengetahui rahasia keeksisannya sampai sekarang yang mempunyai jaringan internasional, dan dengan harapan, konsep pergerakan inibisa melakukan sintesis dengan gerakan islamkotemporer sa’at ini.
Konsepsi Akidah
            Ahl-sunnah Wa Al-Jama’ah adalah metode Ikhwan dalam berakidah, yang mana akidah menurut Al-Banna ialah “sesuatu yang harus dipercayaioleh hati (mu), dengan itu diri (mu) merasa tenang.
Konsepsi Dakwah
            Penanaman iman yang kuat pada diri Muslim adalah senjata utama dalam meneruskan dan menyebarkan dakwah islam dalam beberapa dimensi dan objek garapannya, dan juga dakwah Ikhwan Al-Muslimin berorientasi pada hal yang prinsipil, beraliansi dengan pengembangan nilai-nilai keislaman.
            Sebagai sebuah organisasi Islam, Ikwah Al-Muslimin mengorganisasi dakwahnya secara teratur disebabkan oleh beberapa factor ;
1.      Tujuan islam tidak akan terealisasi tanpa terorganisasi, “suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan melaksanakan kewajiban”
2.      Salah satu sifat manusia adalah berpaling dari saudaranya, mereka itulah yang tidak berhak mendapatkan rahmat Allah, kecuali dengan sikap loyal.
3.      Seorang muslim harus ta’at kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin. “Taatlah kamu sekalian pada allah,Rasul-Nya, dan pemimpin di antaramu”.
4.      Seseorang harus melaksanakan sandaran hidupnya pada islam dan mendidik dirinya dengan islam.
5.      Seorang (anggota organisasi) diharuskanmenerapkan ilmunya dalam organisasi itu.
Adapun prioritas dakwah Ikhwan Al-Muslimin bisa kita bagi menjadi dua fase utama.
Pertama, dakwah pada abad ke-19 M, yang terfokus pada :
a.       Pembentukan diri muslim sejati.
b.      Terciptanya keluarga islami
c.       Masyarakat Islami
d.      Pemerintahan Islami
Kedua, dakwah pada masa-masa selanjutnya, sebagai follow-up dari realisasi dakwah pada tahun-tahun  pertama, yang penekanan dakwahnya ialah :
a.       Islamisasi alam islam
b.      Justifikasi eksistensi akal
c.       Revitalisasi agama.
Hassan Al-Banna melatih anggotanya untuk menjadi muslim sejati, dan membagi tingkatan anggotanya (dalam pembentukan muslim sejati) menjadi 6 tingkatan : Musa’id (partisipan), Muntasib (simpatisan), amil (agen), mujahid (pejuang), Naqib (Representatif), dan Na’ib (legislatif). Keanggotaan tersebut diklasifikasikan menjadi tiga kelompok; Musa’id dan Muntasib disatukan dalam satu derajat yaitu derajat Nashir (penolong), derajat amil (dan mujahid menjadi derajat munfidz (pelaksana), dan derajat Naqib serta Na’ib menjadi Naqib (Representatif).
Hassan Al-Banna ikut mensistensikan idealism Negara yang dirasakan tidak relevan lagi dengan tujuan didirikannya sebuah Negara bedasarkan dakwah islam.
Sistem Negara islam berlandaskan pada: Pertama : tanggung jawab penmimpin, penyatuan umat dan menghormati kehendak rakyat. Kedua           : persatuan umat (bangsa). Ketiga: menghargai pendapat rakyat.
Sistem ekonomi islam
            Predikat kondisi perekonomian islam yang kurang stabil serta concern kaum muslim untuk menggerakkan dakwah, maka Hassan Al-Banna merumuskan sebah sistem ekonomi bagi pergerakannya.
1.      Harta yang sehat adalah tiangnya kehidupan
2.      Setiap individu yang mampu wajib mendapatkan pekerjaan.
3.      Menggali sumber kekayaan alam dan memanfaatkannya.
4.      Dilarang mendapatkan kekayaan dengan jalan yang tidak baik.
5.      Mendekapkan gap social antara berbagai golongan masyarakat
6.      Jaminan social terhadap individu, jaminan kehidupannya serta mendapatkan pekerjaan sesuai peraturannya
7.      Menggunakan kekayaan pada jalannya, saling bekerjasama dalam kebaikan dan takwa.
8.      Menjaga kekayaan dan menghormati kepemilikan khusus (individu) selam tidakbertentangan dengan kepentingan umum.
9.      Regulasi mu’amalah kekayaan dengan berlandaskan pada keadilan dan mengatur keuangan dengan seteliti mungkin.
10.  Negara bertanggung jawab melindungi system perekonomian ini.
Malek Ben Nabi, pakar peradaban islam, mencoba mengetengahkan syarat-syarat tinggal landas ekonomi muslim yang harus dituju diantaranya.
1.      Peran kekayaan harus mampu menciptakan lapangan kerja.
2.      Investasi kekaya’an dan investasi social.
3.      Merealisasikan dinamika ekonomi berasakan pada prinsip-prinsip yang ada.
4.      Landasan etika ekonomi adalah sebagai proses produksi dan distribusi.
5.      Penyesuaian biologis individu dan sosialnya pada percaturan (pengalaman) modern.
6.      Pentingnya membangun diri dan mengembangkan ekonomi sosialmenuju perekonomian yang lebih luas lagi dalam mencapai keberhasilan.

Penutup
            Gerakan islam pada masa sekarang mempunyai prospek yang cukup menguntungkan bagi umat ilam yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan negaranya. Terbukti di beberapa Negara sedang terjai shahwah islamiyah dalam berbagai bentuk dan misi yang diemban oleh masing-masing pergerakan. Slogan kehidupan yangberbaukan Barat tidak menarik lagi bagi sebuah tatanan sosial karena mungkin mereka trauma, bahkan bosan hidup dengan menggunakan ideolog-ideologi impor. Sistem tersebut tidak bisa mendatangkan kebahagiaan pada kemajuan negaranya. Banyak negara yang pernah mencoba menerapkan sistem kehidupan dengan mengadopsi tatanan yang pernah atau sedang dipakai oleh Barat. Ternyata hasilnya perlu dipertanyakan kembali. Sudah saatnya kita kembali pada tatanan yang telah dikonsepkan oleh islam dengan tidak lupa mendialogkannya terhadap perkembangan zaman. Janji tuhan pasti akan datang.
       
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar