Biografi Al-syahid hasan al-banna
Saat melemahnya
pergerakan revolusi Mesir, yang diiringi dengan munculnya inggris menduduki
wilayah-wilayah Mesir, lahirlah si jabang bayi yang kelak mengangkat nasib kaum
Muslim daripenjajahan dan kemunduran, yang lahir pada bulan oktober 1906 M. di
wilayah Buhairah, desa Mahmudiyah yang terletak 10 mil dari dari barat daya
Kairo. Dia dilahirkan dari kalangan keluarga yang taat beragama.
Dalam
umur yang relatif cukup muda, ia telah memasuki jama’ah diniyyah (keagamaan),
di antaranya ”jama’ah Suluk akhlaki” telah mempengaruhi kepribadian Hassan
al-banna, menjadikannya konsisten dalam menjalankan perintah allah dan menjauhi
larangannya, ang ia terapkan dalam sikap dan perilakunya. Tidak cukup di situ
saja, Mesir sebagai pusat perkembangan tarekat sufi, dan tempat lahirnya para
tokoh sufi islam, ikut mewarnai moralitas dan berpikir Al-Banna. Tarekat
pertama yang menarik baginya adalah tarekat Ikhwan Al-Hasafiyyah. Tidak lama
kemudian dia mendirikan jam’iyah Hashafiyyah li Al-Birri, sebagai manifestasi
dari penghayatan dan keinginannya untuk menyebarkan misi tarekat agar lebih
memasyarakat, yang akan menambah dinamika dakwah islamlebih semarak serta bisa
menandingi sekaligus memerangi memerangi kegiatan misionaris Kristen di
kota-kota. Maka pada umur 13 tahun dia menjadi sekretaris salah satu organisasi
yang diketuai oleh Ahmad Syukri (dia kelak yang mendukung berdirinya Ikhwan
al-Muslimin). Di tengah kesibukannya sebagai da’I, Al-banna mampu menyelesaikan
jenjang pendidikannya dengan mulus. Pada 1927 ia lulus dari Fakultras Darul
Ulum, pada usia 21 tahun. Panggilan berdakwah di kampungnya telah mendorongnya
untuk kembali ke daerah kelahirannya. Disan dia bekerja sebagai guru sejak 19
september 1927, hingga dia mengundurkan diri pada 1946.
Konsep pergerakan Ikhwan Al-Muslimin.
Oase
dakwah member ilham berdirinya gerakan Islam Al-Ikhwan Al-Muslimin yang
dipimpinnya, pada Maret 1928 M. Nama dipilih oleh Hassan Al-Banna karena, “kita
bersaudara dalam berkhidmat kepada allah, oleh karena itu kita Ikhwan
Al-Muslimin. Nah, untuk memahami lebih lanjut, mari kita melihat ketujuh
spesifikasi yang dapat mendeskripsikan makna filosofis Ikhwan Al-Muslimin
diantara gerakan-gerakan yang ada saat itu, dan mungkin juga sebagai saat ini,
adalah sebagai berikut :
1. Organisasi yang membawa nama islam tanpa keraguan.
2. Organisasi yang selalu berpijak pada yang haq. Sebagaimana diketahui
dalam sejarah (perjalanan Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah.
3. Organisasi yang bisa menghimpun kaum muslim dalam menyampaikan yang haq.
4. Organisasi yang selalu bergerak (dalam amaliyyahnya) untuk menciptakan
‘izzah islam agar bisa direalisasikan seluruhnya.
5. Organisasi yang berusaha membebaskan kaum muslim dari keterikatan yang
ingin menghilangkan kemuliaannya.
6. Organisasi yang mampu mengaplikasikan ciri-ciri khusus golongan Allah
terhadap dirinya masing-masing.
7. Organisasi yang tidak melupakan persaudaraan di antara Muslim, tidak
mengagungkan mulia dengan kemuliaannya, dan tidak sombong pada kebaikan.
Dan untuk
lebih mengetahui sejauh mana pengaruh dan keberadaan gerakan Ikhwan Al-Muslimin
di masyarakat dahulu dan sekarang ini, alangkah baiknyakita melihat kosep
pergerakan ini secara utuh, untuk mengetahui rahasia keeksisannya sampai
sekarang yang mempunyai jaringan internasional, dan dengan harapan, konsep
pergerakan inibisa melakukan sintesis dengan gerakan islamkotemporer sa’at ini.
Konsepsi Akidah
Ahl-sunnah
Wa Al-Jama’ah adalah metode Ikhwan dalam berakidah, yang mana akidah menurut
Al-Banna ialah “sesuatu yang harus dipercayaioleh hati (mu), dengan itu diri
(mu) merasa tenang.
Konsepsi Dakwah
Penanaman
iman yang kuat pada diri Muslim adalah senjata utama dalam meneruskan dan
menyebarkan dakwah islam dalam beberapa dimensi dan objek garapannya, dan juga
dakwah Ikhwan Al-Muslimin berorientasi pada hal yang prinsipil, beraliansi
dengan pengembangan nilai-nilai keislaman.
Sebagai
sebuah organisasi Islam, Ikwah Al-Muslimin mengorganisasi dakwahnya secara
teratur disebabkan oleh beberapa factor ;
1. Tujuan islam tidak akan terealisasi tanpa terorganisasi, “suatu
kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan melaksanakan kewajiban”
2. Salah satu sifat manusia adalah berpaling dari saudaranya, mereka itulah
yang tidak berhak mendapatkan rahmat Allah, kecuali dengan sikap loyal.
3. Seorang muslim harus ta’at kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin.
“Taatlah kamu sekalian pada allah,Rasul-Nya, dan pemimpin di antaramu”.
4. Seseorang harus melaksanakan sandaran hidupnya pada islam dan mendidik
dirinya dengan islam.
5. Seorang (anggota organisasi) diharuskanmenerapkan ilmunya dalam
organisasi itu.
Adapun
prioritas dakwah Ikhwan Al-Muslimin bisa kita bagi menjadi dua fase utama.
Pertama, dakwah pada abad ke-19 M, yang
terfokus pada :
a. Pembentukan diri muslim sejati.
b. Terciptanya keluarga islami
c. Masyarakat Islami
d. Pemerintahan Islami
Kedua, dakwah pada masa-masa selanjutnya,
sebagai follow-up dari realisasi dakwah pada tahun-tahun pertama, yang penekanan dakwahnya ialah :
a. Islamisasi alam islam
b. Justifikasi eksistensi akal
c. Revitalisasi agama.
Hassan Al-Banna
melatih anggotanya untuk menjadi muslim sejati, dan membagi tingkatan
anggotanya (dalam pembentukan muslim sejati) menjadi 6 tingkatan : Musa’id
(partisipan), Muntasib (simpatisan), amil (agen), mujahid (pejuang), Naqib
(Representatif), dan Na’ib (legislatif). Keanggotaan tersebut diklasifikasikan
menjadi tiga kelompok; Musa’id dan Muntasib disatukan dalam satu derajat yaitu
derajat Nashir (penolong), derajat amil (dan mujahid menjadi derajat munfidz
(pelaksana), dan derajat Naqib serta Na’ib menjadi Naqib (Representatif).
Hassan
Al-Banna ikut mensistensikan idealism Negara yang dirasakan tidak relevan lagi
dengan tujuan didirikannya sebuah Negara bedasarkan dakwah islam.
Sistem Negara
islam berlandaskan pada: Pertama : tanggung jawab penmimpin, penyatuan umat dan
menghormati kehendak rakyat. Kedua :
persatuan umat (bangsa). Ketiga: menghargai pendapat rakyat.
Sistem ekonomi islam
Predikat
kondisi perekonomian islam yang kurang stabil serta concern kaum muslim untuk
menggerakkan dakwah, maka Hassan Al-Banna merumuskan sebah sistem ekonomi bagi
pergerakannya.
1. Harta yang sehat adalah tiangnya kehidupan
2. Setiap individu yang mampu wajib mendapatkan pekerjaan.
3. Menggali sumber kekayaan alam dan memanfaatkannya.
4. Dilarang mendapatkan kekayaan dengan jalan yang tidak baik.
5. Mendekapkan gap social antara berbagai golongan masyarakat
6. Jaminan social terhadap individu, jaminan kehidupannya serta mendapatkan
pekerjaan sesuai peraturannya
7. Menggunakan kekayaan pada jalannya, saling bekerjasama dalam kebaikan
dan takwa.
8. Menjaga kekayaan dan menghormati kepemilikan khusus (individu) selam
tidakbertentangan dengan kepentingan umum.
9. Regulasi mu’amalah kekayaan dengan berlandaskan pada keadilan dan
mengatur keuangan dengan seteliti mungkin.
10. Negara bertanggung jawab melindungi system perekonomian ini.
Malek Ben
Nabi, pakar peradaban islam, mencoba mengetengahkan syarat-syarat tinggal landas
ekonomi muslim yang harus dituju diantaranya.
1. Peran kekayaan harus mampu menciptakan lapangan kerja.
2. Investasi kekaya’an dan investasi social.
3. Merealisasikan dinamika ekonomi berasakan pada prinsip-prinsip yang ada.
4. Landasan etika ekonomi adalah sebagai proses produksi dan distribusi.
5. Penyesuaian biologis individu dan sosialnya pada percaturan (pengalaman)
modern.
6. Pentingnya membangun diri dan mengembangkan ekonomi sosialmenuju
perekonomian yang lebih luas lagi dalam mencapai keberhasilan.
Penutup
Gerakan
islam pada masa sekarang mempunyai prospek yang cukup menguntungkan bagi umat
ilam yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan negaranya. Terbukti di
beberapa Negara sedang terjai shahwah islamiyah dalam berbagai bentuk dan misi
yang diemban oleh masing-masing pergerakan. Slogan kehidupan yangberbaukan
Barat tidak menarik lagi bagi sebuah tatanan sosial karena mungkin mereka
trauma, bahkan bosan hidup dengan menggunakan ideolog-ideologi impor. Sistem tersebut tidak bisa mendatangkan kebahagiaan pada kemajuan
negaranya. Banyak negara yang pernah mencoba menerapkan sistem kehidupan dengan
mengadopsi tatanan yang pernah atau sedang dipakai oleh Barat. Ternyata hasilnya
perlu dipertanyakan kembali. Sudah saatnya kita kembali pada tatanan yang telah
dikonsepkan oleh islam dengan tidak lupa mendialogkannya terhadap perkembangan
zaman. Janji tuhan pasti akan datang.